Ep 3 : Panjang Sabar Dalam Penderitaan


 

‘Longsuffering’ is patience with offence; long endurance. If you are longsuffering, you will not impart to others your supposed knowledge of your brother’s mistakes and errors. You will seek to help and save him, because he has been purchased with the blood of Christ."–My Life Today, p. 52.


Perenungan : 

Longsuffering adalah kesabaran dalam menghadapi kesalahan/sakit hati (patience with offence) serta memiliki daya tahan yang lama (long endurance).

Orang yang Longsuffering akan : 

Menjaga Lidah: Orang yang panjang sabar tidak akan menyebarkan atau membicarakan kesalahan dan kekeliruan sesamanya kepada orang lain.

Fokus pada Solusi: Alih-alih menghakimi atau bergosip, sikap yang muncul adalah keinginan untuk menolong dan menyelamatkan orang tersebut. Tindakan menolong ini didasari oleh kesadaran bahwa setiap jiwa sangat berharga karena telah ditebus oleh pengorbanan darah Kristus.


Never should we lose control over ourselves. Let us ever keep before us the perfect Pattern. It is a sin to speak impatiently and fretfully or to feel angry–even though we do not speak. We are to walk worthy, giving a right representation of Christ.–In Heavenly Places, p. 246.


Perenungan : 

Kita tidak boleh kehilangan kendali atas diri sendiri dan harus selalu menjadikan Kristus sebagai Teladan yang sempurna. Berbicara dengan tidak sabar, mengeluh, atau bahkan menyimpan rasa marah di dalam hati—meskipun tidak diucapkan—adalah sebuah dosa. Sebagai pengikut-Nya, kita dipanggil untuk hidup dengan layak dan menjadi cerminan serta perwakilan Kristus yang benar bagi sesama.


The Majesty of heaven, the King of glory, left His riches, His splendor, His honor and glory, and, in order to save sinful man, condescended to a life of humility, poverty, and shame; ‘who for the joy that was set before Him endured the cross, despising the shame’ (Hebrews 12:2). Oh, why are we so sensitive to trial and reproach, to shame and suffering, when our Lord has given us such an example? Who would wish to enter into the joy of their Lord while they were unwilling to partake of His sufferings? What! The servant unwilling to bear the humility and shame and reproach which the Master bore unselfishly for him! the servant shrinking from a life of humility and sacrifice which is for his own eternal happiness, by which he may finally obtain an exceedingly great, an eternal reward! The language of my heart is: Let me be a partaker with Christ of His sufferings, that I may finally share with Him the glory.–Testimonies, vol. 2, pp. 490, 491.


Perenungan : 

Yesus Kristus, Sang Raja Kemuliaan, rela meninggalkan segala kekayaan dan keagungan-Nya demi menyelamatkan manusia berdosa melalui kehidupan yang penuh kerendahan hati, kemiskinan, dan penderitaan di salib. Sebagai hamba-Nya, kita tidak boleh menjadi rapuh atau menolak saat menghadapi ujian, celaan, dan penderitaan. Kita tidak bisa mengharapkan sukacita kekal bersama Kristus jika kita tidak mau ikut ambil bagian dalam penderitaan dan pengorbanan yang telah Dia teladani. Menanggung penderitaan bersama Kristus adalah jalan mulia untuk akhirnya menerima upah kekal dan berbagi kemuliaan bersama-Nya.

a more sure word of prophecy

Posting Komentar untuk "Ep 3 : Panjang Sabar Dalam Penderitaan"